Minggu, 27 Maret 2011

Tugas Mene Retail 2 (Toko waralaba dan toko independen)

Definisi Franchise (Waralaba) :
Menurut Blake & Associates (Blake, 1996), kata franchise berasal dari bahasa Perancis kuno yang berarti bebas. Pada abad pertengahan franchise diartikan sebagai hak utama atau kebebasan (Sewu, 2004, p. 15).
Menurut Queen (1 993:4-5) franchise adalah kegiatan pemberian lisensi dari pemegang usaha (franchisor) kepada pembeli merek usaha (franchisee) untuk berusaha dibawah nama dagang franchisor berdasarkan kon trak dan pembayaran royalti.
European Code of Ethics for Franchising memberikan definisi franchisesebagai berikut (European Code of Ethics for Franchising, 1992, p. 3): “Franchise adalah sistem pemasaran barang dan atau jasa dan atau teknologi, yang didasarkan pada kerjasama tertutup dan terus menerus antara pelaku-pelaku independent (maksudnya franchisor dan individual franchisee) dan terpisah baik secara legal (hukum) dan keuangan, dimana franchisor memberikan hak pada individual franchisee, dan membebankan kewajiban untuk melaksanakan bisnisnya sesuai dengan konsep dari franchisor” ( Sewu, 2004, p. 5-6).
Menurut Winarto (1995, p. 19) Waralaba atau franchise adalahhubungan kemitraan yang usahanya kuat dan sukses dengan usahawan yang relatif baru atau lemah dalam usaha tersebut dengan tujuan saling menguntungkan khususnya dalam bidang usaha penyediaan produk danjasa langsung kepada konsumen.

Jenis/Bentuk Franchise
Menurut Mohammad Su’ud ( 1994:4445) bahwa dalam praktek franchise terdiri dari empat bentuk:
1. Product Franchise
Suatu bentuk franchise dimana penerima franchise hanya bertindak mendistribusikan produk dari petnernya dengan pembatasan areal.
2. Processing or Manufacturing Frinchise
Jenis franchise ini memberikan hak pada suatu badan usaha untuk membuat suatu produk dan menjualnya pada masyarakat, dengan menggunakan merek dagang dan merek franchisor. Jenis franchise ini seringkali ditemukan dalam industri makanan dan minuman.
Suatu bentuk franchise dimana PT Ramako Gerbangmas membeli dari masterfranchise yang mengeloia Mc Donald‘s di Indonesia yang hanya memberi know how pada PT Ramako Gerbangmas tersebut untuk menjalankan waralaba Mc Donald’s.
3. Bussiness Format atau System Franchise
Franchisor memiliki cara yang unik dalam menyajikan produk dalam satu paket, seperti yang dilakukan oleh Mc Donald’s dengan membuat variasi produknya dalam bentuk paket.
4. Group Trading Franchise
Bentuk franchise yang menunjuk pada pemberian hak mengelola toko-toko grosir maupun pengecer yang dilakukan toko serba ada.

Menurut International Franchise Association (IFA) berkedudukan diWashington DC, merupakan organisasi Franchise International yang beranggotakan negara-negara di dunia, ada empat jenis franchise yang mendasar yang biasa digunakan di Amerika Serikat, yaitu:
1. Product Franchise
Produsen menggunakan produk franchise untuk mengatur bagaimana cara pedagang eceran menjual produk yang dihasilkan oleh produsen. Produsen memberikan hak kepada pemilik toko untuk mendistribusikan barang-barang milik pabrik dan mengijinkan pemilik toko untuk menggunakan nama dan merek dagang pabrik. Pemilik toko harus membayar biaya atau membeli persediaan minimum sebagai timbal balik dari hak-hak ini. Contohnya, toko ban yang menjual produk dari franchisor, menggunakan nama dagang, serta metode pemasaran yang ditetapkan oleh franchisor.
2. Manufacturing Franchises

Jenis franchise ini memberikan hak pada suatu badan usaha untuk membuat suatu produk dan menjualnya pada masyarakat, dengan menggunakan merek dagang dan merek franchisor. Jenis franchise ini seringkali ditemukan dalam industri makanan dan minuman.
3. Business Oportunity Ventures
Bentuk ini secara khusus mengharuskan pemilik bisnis untuk membeli dan mendistribusikan produk-produk 

 dari suatu perusahaan tertentu. Perusahaan harus menyediakan pelanggan atau rekening bagi pemilik bisnis, dan sebagai timbal baliknya pemilik bisnis harus membayarkan suatu biaya atau prestasi sebagai kompensasinya. Contohnya, pengusahaan mesin-mesin penjualan otomatis atau distributorship.
4. Business Format Franchising
Ini merupakan bentuk franchising yang paling populer di dalam praktek. Melalui pendekatan ini, perusahaan menyediakan suatu metode yang telah terbukti untuk mengoperasikan bisnis bagi pemilik bisnis dengan menggunakan nama dan merek dagang dari perusahaan. Umumnya perusahaan menyediakan sejumlah bantuan tertentu bagi pemilik bisnis membayar sejumlah biaya atau royalti. Kadang-kadang, perusahaan juga mengaharuskan pemilik bisnis untuk membeli persediaan dari perusahaan.

Keunggulan dan Kelemahan Sistem Franchise

Franchising juga merupakan strategi perluasan dari suatu usaha yang telah berhasil dan ingin bermitra dengan pihak ketiga yang serasi, yang ingin berusaha, dan memiliki usaha sendiri. Sistem franchise ini mempunyai keunggulan-keunggulan dan juga kerugian-kerugian. Keunggulannya adalah:
“As practiced in retailing, franchising offers franchisees the advantage ofstarting up a new business quickly based on a proven trademark and formulaof doing business, as opposed to having to build a new business and brand from scratch.”
“Seperti dalam praktek retailing, franchising menawarkan keuntungan untuk memulai suatu bisnis baru dengan cepat berdasar pada suatu merek dagang yang telah terbukti bisnisnya, tidak sama seperti dengan membangun suatumerek dan bisnis baru dari awal mula.” Selain itu menurut Rachmadi keunggulan lainnya dari sistem franchise bagi franchisee, antara lain:
1. Pihak franchisor memiliki akses pada permodalan dan berbagi biaya dengan franchisee dengan resiko yang relatif lebih rendah.
2. Pihak franchisee mendapat kesempatan untuk memasuki sebuah bisnis dengan cara cepat dan biaya lebih rendah dengan produk atau jasa yang telah teruji dan terbukti kredibilitas mereknya.
3. Lebih dari itu, franchisee secara berkala menerima bantuan manajerial dalam hal pemilihan lokasi bisnis, desain fasilitas, prosedur operasi, pembelian, dan pemasaran. (Rachmadi, 2007, p. 7-8)

Sedangkan kerugian sistem franchise bagi franchisee adalah:
1. Sistem franchise tidak memberikan kebebasan penuh kepada franchisee karena franchisee terikat perjanjian dan harus mengikuti sistem dan metode yang telah dibuat oleh franchisor.
2. Sistem franchise bukan jaminan akan keberhasilan, menggunakan merek terkenal belum tentu akan sukses bila tidak diimbangi dengan kecermatan dan kehati-hatian franchisee dalam memilih usaha dan mempunyai komitmen dan harus bekerja keras serta tekun.
3. Franchisee harus bisa bekerja sama dan berkomunikasi dengan baik dalam hubungannya dengan franchisor. (Sukandar, 2004, p. 67)
4. Tidak semua janji franchisor diterima oleh franchisee.
5. Masih adanya ketidakamanan dalam suatu franchise, karena franchisor dapat memutuskan atau tidak memperbaharui perjanjian.
Independent retail firm, yaitu suatu outlet pengecer yang dimiliki dan dioperasikan secara independen dan tanpa afiliasi (penggabungan). Contohnya: warung, kios, atau toko barang kelontong yang dimiliki orang per orang, baik yang berlokasi di pasar regional, pasar Inpres, pasar tradisional, perumahan penduduk, jajaran rumah toko (ruko), maupun di lokasi-lokasi lainnya. Termasuk pula di dalamnya outlet yang dikelola oleh koperasi.
Ciri-ciri waralaba yang menjanjikan antara lain:
1. Memiliki sistem kuat dan bermodal besar.
2. Memiliki laporan keuangan yang rapi, mudah dibaca, dan tak dibuat
berdasarkan karangan. Akan lebih baik bila dibuat oleh akuntan publik.

3. Tak sekadar menjual bisnisnya. Tak pelit membagi pengalaman selama menggeluti usahanya,

memberikan saran pada pewaralaba soal lokasi yang bagus, ada standar pelayanan dan kontrol kualitas.
4. Menyediakan pelatihan kepada tenaga kerja, hingga mereka mahir melakukan tugasnya.
5. Menyediakan alat-alat yang dibutuhkan, sehingga pewaralaba tidak perlu membeli alat yang mahal.
6. Menyuplai bahannya, supaya kualitas produk di semua pewaralaba tetap terjaga.
7. Jujur pada pewaralaba mengenai manajemen dan kondisi keuangan waralaba miliknya.

Karakteristik waralaba
Karakteristik
   a.  memiliki ciri khas usaha;
    b.  terbukti sudah memberikan keuntungan;
    c.  memiliki standar atas pelayanan dan barang dan/atau jasa yang  ditawarkan yang dibuat secara  tertulis;
    d.  mudah diajarkan dan diaplikasikan;
    e.  adanya dukungan yang berkesinambungan; dan
    f.  Hak Kekayaan Intelektual (HKI) yang telah terdaftar.
   g.  persediaan barang dalam jumlah dan jenis yang sangat variatif sehingga menimbulkan banyak pilihan untuk konsumen
perbedaan  toko berwaralaba dengan toko independen
no
Waralaba
Non waralaba/independen
1
Toko retail yang dibangun atas kontrak kerja,system bagi hasil antara terwaralaba. perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari  HAKI atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa
Pengecer independent adalah pengecer yang dimiliki oleh seseorang atau suatu
kemitraan dan tidak dioperasikan sebagai bagian dari lembaga eceran yang lebih
besar. Tidak mempunyai HAKI.

2.
Toko dengan skala besar, toko pengecer yang besar dan memeiliki banyak jenis produk yang dijual.
toko dengan skala kecil, menjual bermacam barang dan dimiliki seorang individu.

3
Tingkat pelayanan yang disediakan oleh pengercer dapat diklasifikasikan
sepanjang suatu rangkaian dari pelayanan penuh (full service) sampai pelayanan
sendiri (self service).

Tingkat pelayana tidak dapat diklasifikasikan sepanjang tahun dari pelayanan penuh maupun pelayanan sendiri.
4
Harga dalam toko berwaralaba cenderung lebih tinggi daripada harga yang ditawarkan di toko independen.
Harga merupakan cara untuk memposisikan toko-toko eceran. Toko
diskon, factory outlet dan pengecer obral adalah toko yang menggunakan harga rendah.

5
Produk yang dipasarkan lebih beragam dan bervariasi. Karena modal yang dikeluarkan untuk pertama kali scukup besar.
Produk yang dipasarkan kurang beragam, hanya terfokus untuk beberapa macam produk saja. Dan modal yang dikeluarkan pun tidak terlalu besar disbanding dengan toko waralaba.


1. Persamaan toko waralaba dengan toko independen:
1.      Sama-sama menawarkan dan menjual barang atau jasa untuk konsumen.
2.      Sama-sama bergerak di jasa perdagangan.
3.      Sama-sama mempunyai wilayah atau area untuk melakukan aktivitas jual-beli
4.       



1.Online shopping


Keuntungan:
Kenyamanan. Toko online biasanya tersedia 24 jam sehari, dan banyak konsumen memiliki akses Internet baik di tempat kerja dan di rumah. Perusahaan lain seperti warung internet dan sekolah
 menyediakan akses juga. Kunjungan ke toko ritel konvensional membutuhkan perjalanan dan harus berlangsung selama jam kerja.

Informasi dan ulasan.Online toko harus menggambarkan produk yang dijual dengan teks, foto, dan file multimedia, sedangkan di toko ritel fisik, produk aktual dan kemasan produsen akan tersedia untuk inspeksi langsung (yang mungkin melibatkan test drive, pas, atau eksperimen lainnya) .

Harga dan seleksi. Satu keuntungan dari belanja online adalah mampu cepat mencari penawaran barang atau jasa dengan berbagai vendor (meskipun beberapa mesin pencarian lokal memang ada untuk membantu konsumen menemukan produk yang dijual di toko-toko terdekat). Search engine, harga layanan online dan mesin penemuan perbandingan belanja dapat digunakan untuk mencari penjual produk atau jasa tertentu.

Kerugian:
Penipuan dan keamanan. Karena kurangnya kemampuan untuk memeriksa barang sebelum membeli, konsumen berada pada risiko yang lebih tinggi penipuan di bagian pedagang daripada di toko fisik. Pedagang juga risiko penipuan pembelian menggunakan kartu kredit dicuri atau penolakan penipuan pembelian online. Dengan gudang bukannya toko ritel, pedagang menghadapi risiko kurang dari pencurian fisik.

Kurangnya keterbukaan biaya penuh. Kurangnya keterbukaan sehubungan dengan total biaya pembelian adalah salah satu perhatian dari belanja online. Meskipun mungkin mudah untuk membandingkan harga dasar online item, mungkin tidak mudah untuk melihat total biaya Facebook depan sebagai biaya tambahan seperti pengiriman sering tidak terlihat sampai langkah terakhir dalam proses checkout.

Privasi. Privasi informasi pribadi adalah masalah yang signifikan bagi beberapa konsumen. Yurisdiksi hukum yang berbeda memiliki hukum yang berbeda tentang privasi konsumen, dan berbagai tingkat penegakan hukum.

Produk :
Beberapa produk non-digital yang telah lebih berhasil dari yang lain untuk toko online. Menguntungkan item sering memiliki tinggi nilai-to-weight ratio, mereka mungkin melibatkan pembelian memalukan,
 mereka biasanya dapat pergi kepada orang-orang di daerah terpencil, dan mereka mungkin telah menutup-in sebagai pembeli khas mereka. Produk yang dapat disimpan dalam kotak surat standar - seperti CD musik, DVD dan buku - sangat cocok untuk pemasar virtual.

Produk-produk seperti suku cadang, baik untuk barang-barang konsumen seperti mesin cuci dan untuk peralatan industri seperti pompa sentrifugal, juga tampak kandidat yang baik untuk penjualan online. Pengecer sering perlu memesan suku cadang khusus, karena mereka biasanya tidak saham mereka pada konsumen outlet-dalam kasus tersebut, solusi e-commerce dalam suku cadang tidak bersaing dengan toko-toko ritel, hanya dengan sistem pemesanan lain. Sebuah faktor untuk sukses di niche ini dapat terdiri dari menyediakan pelanggan dengan tepat, informasi yang dapat dipercaya tentang yang nomor bagian versi tertentu mereka produk kebutuhan, misalnya dengan memberikan daftar komponen mengetik dengan nomor seri.

Produk kurang cocok untuk e-commerce termasuk produk yang memiliki rasio nilai-ke-berat badan rendah, produk yang memiliki bau, rasa, atau komponen sentuh, produk yang membutuhkan alat kelengkapan sidang - yang paling terutama pakaian - dan produk mana integritas warna muncul penting. Namun demikian, Tesco.com telah berhasil menyampaikan bahan makanan di Inggris, meskipun banyak barang perusahaan berkualitas generik, dan pakaian dijual melalui internet adalah bisnis besar di Amerika Serikat juga, program daur ulang Cheapcycle menjual barang melalui internet, tapi menghindari masalah nilai-ke-berat rasio rendah dengan menciptakan kelompok-kelompok yang berbeda untuk berbagai daerah, sehingga biaya pengiriman tetap rendah.
2.Warung Tegal

Produk
Hidangan-hidangan di warteg pada umumnya bersifat sederhana dan tidak memerlukan peralatan dapur yang sangat lengkap. Nasi gorengdan mi instan hampir selalu dapat ditemui, demikian pula makanan ringan seperti pisang goreng, minuman seperti kopi, teh dan minuman ringan. Beberapa warung tegal khusus menghidangkan beberapa jenis makanan, seperti sate tegal, gulai dan minuman khas Tegal teh poci.


Yang unik dari bisnis Warteg ini, meski melayani masyarakat menengah ke bawah, hasil yang didapatkan cukup besar. Hal ini terbukti dari tingkat ekonomi para pengusaha Warteg yang cukup membanggakan. Di Kelurahan, Sidapurna, Sidakaton, dan Krandon kita tidak perlu heran menyaksikan rumah-rumah mewah dibangun di sana. Rumah-rumah itu kebanyakan milik para pengusaha Warteg yang membuka usaha di Jakarta.

Rabu, 16 Maret 2011

manajemen retaillllllllllllllllllllllllll

Latar Belakang
Bisnis ritel merupakan salah satu usaha yang memiliki prospek cukup baik. Teruatam jika mengamati jumlah populasi penduduk Indonesia pada tahun 2010 yang diperkirakan mencapai kurang lebih 220 juta jiwa. Alhasil, rasio keberadaan ritel khusunya ritel modern apabila diabdingkan dengan total penduduk Indonesia masih menunjukkan kesenjangan yang cukup besar (satu ritel masih harus melayani 500.000 jiwa).
Keberadaan ritel-ritel tradisional memang masih cukup diperlukan dalam konteks melayani segmen ekonomi bawah. Namun kemajuan teknoligi dan tuntutan kebutuhan konsumen yang terus meningkat menjadi pendorong adanya perubahan orientasi bisnis dalam lingkup bisnis ritel.
Jika pada awalnya banyak bisnis ritel yang cukup dikelola secara tradisional, tanpa dukungan teknologi yang memadai, tanpa pendekatan manajemen modern dan tanpa berfokus pada kenyamanan dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Pergeseran pola perilaku belanja pelangan yang terdeteksi dari sejumlah studi yang dilakukan menunjukkan bahwa aktivitas belanja pelanggan tidak hany dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan akan barang-barang keperluan hidup, namun lebih mengarah pada terpenuhinya kebutuhan untuk berekreasi dan berelasi. Kondisi inilah yang mendorong bisnis ritel tardisional mulai harus peka menaggapi kebutuhan pelanggan yang belum terpemuhi (un met need) jika mereka ingin tetap bertahan hidup dalam lingkungan persaingan bisnis ritel yang semakin tajam.
Bekal pemahaman terhadap konsep-konsep pengelolaan ritel modern sangat penting untuk dipahami, mengingat kegagalan dalam pengelolaan akan menumbulkan resiko kerugian yang cukup besar. Sedangkan jika seorang pelaku bisnis ritel tetap bertahan dengan pengelolaan ritel secara tradisional tidak memungkinkan untuk memiliki keunggulan kompetitif yang berkelanjutan bila dihadapkan dengan semakin banyaknya ritel-ritel modern yang dikelola dengan modal yang cukup besar maupun terjadinya perubahan pola belanja konsumen yang mempunyai konsekuansi terhadap berubahnya kebutuhan mereka terhadap keberadaan sebuah ritel seperti yang telah dijelaskan di atas.
Pengelolaan ritel modern skala besar dan kecil membutuhkan kesiapan pengelola dalam arti Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki pengetahuan, ketrampilan (baik soft maupun hard skill) dalam hal manajerial ritel modern dan sekaligus kepekaan dalam melihat peluang agar dapat memiliki kompetensi untuk bertahan dalam bisnis ritel (continous competitive advantage).
Untuk itu, dipandang penting untuk mengembangkan pengetahuan dan ketrampilan di bidang manajemen ritel  yang akan menambah kesiapan pengelola ritel tradisional maupun ritel modern pada umumnya dalam mengimplementasikan semua pengetahuan dan konsep manajemen ritel modern secara terintegrasi khususnya bagi kesiapan dalam mengelola bisnis ritel modern slaka kecil dan menengah secara mandiri maupun apabila terjun sebagai bagian dari manajemen suatu perusahaan ritel skala menengah dan besar.
Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai Lembaga Pengembangan Manajemen Fakultas Ekonomi Unika Widya Mandala urabaya Kajian Manajemen Ritel adalah: Mengembangkan Sumber Daya Manusia bidang Manajemen Ritel yang berpengetahuan, berkemampuan dan berkeahlian melalui:
  1. Pemberian pengetahuan tentang dasar-dasar penting secara praktek untuk memulai bisnis ritel modern skala kecil dan menengah
  2. Pemberian kita-kiat untuk meminimumkan resiko gagal dalam memasuki bisnis ritel modern
  3. Menambah peluang sukses memulai dan bertahan dalam bisnis ritel modern
  4. Memberikan referensi penting untuk sukses dalam bisnis ritel modern
  5. Menyusun strategi untuk mencapai kesuksesan dalam bisnis ritel modern
  6. Memberikan pedoman dalam pembuatan rencana kerja dalam bisnis ritel modern
Sasaran
  1. Para pengusaha kecil dan menengah yang berkeinginan terjun dalam bisnis ritel sebagai:
    1. Pemula dalam bisnis ritel modern skala kecil dan menengah secara mandiri
    2. Tenaga yang akan bergabung dala operasional perusahaan ritel modern skala kecil dan menengah
    3. Pelaku bisnis ritel tardisional kecil dan menengah yang berkeinginan untuk mengembangkan diri
    4. Tenaga yang akan bergabung dalam manajerial perusahaan ritel modern skala kecil dan menengah pada tingkatan supervisor/penyelia
  2. Para pengusaha ritel tradisional kecik dan menengah yang menjadi binaan suatu lembaga/institusi/organisasi lembaga swadaya masyarakat